Blog EntryKICAU BURUNG, NYANYIAN ATAU TANGISAN....?Sep 30, '07 6:32 AM
for everyone

Minggu yang lalu aku menelfon Apito Lahire, seorang teman, aktor teater dan sastrawan muda yang terus berkarya di kota kelahiran kami Tegal. Dia sedang di rumah sakit, menjenguk Ibu Diah, seorang sastrawan juga yang tengah sakit.

Seperti biasa, pembicaraan kami ngalor-ngidul tentang berbagai hal. Tentang kegiatan kesenian di Tegal, Indonesia dan dunia pada umumnya, juga tentang rencana dan mimpi. Dia sedang mempersiapkan beberapa pementasan monolog dan juga menulis naskah drama tentang tarian seekor burung (kalau nggak salah burung Anis). Burung yang meliuk-liukkan kepalanya sambil berkicau yang tentunya akan mengundang decak kagum para manusia pecinta burung, sedangkan sang burung rupanya justru sedang merasa sedih dengan berbagai keadaan dirinya, termasuk paruhnya yang besar dan berat seperti nasib kerbau dengan tanduk besar yang justru merasa terbebani karenanya. Parahnya manusia justru mengira dia sedang menari....

Aku jadi ingat sebuah tulisan Mas Prie GS di harian umum Suara Merdeka, tentang burung juga. Dia jengkel dan mangkel ketika sepasang burung yang sebelumnya lincah menari dan bernyanyi menjadi berubah pendiam ketika dimasukan kedalam satu sangkar. Kedua burung itu malah asyik pacaran, setiap sudut sangkar jadi tempat mojok, saling menyisir bulu-bulu pasangan, kemudian berciuman dan bercinta. Kedua burung itu lupa tugas utamanya : ia dibeli untuk bernyanyi dan menghibur majikan dengan tarian yang indah tanpa kenal waktu.

Lalu seperti anjuran penjual burung dulu saat membelinya, kedua burung itu dipisahkan lagi dalam dua sangkar yang berbeda. Keduanya kembali bernyanyi, menari, memeriahkan suasana rumah, tetangga dan tamu yang datang berdecak kagum. Tuan rumah, sang majikan burung itu makin bangga. Masalah selesai.

Lho, selesai untuk siapa..? Kalau untuk pemilik burung tentu ya. Tapi untuk kedua burung itu, justru masalah telah dimulai.

Seandainya manusia bisa memahami bahasa binatang, tentu tak akan terjadi kesalah pahaman. Kenapa harus manusia yang memahami..? Karena manusia dikaruniai akal, dan binatang hanya diberikan insting untuk berbuat. Kalaupun binatang punya akal, tentu tak sebanding dengan kecerdasan manusia. Karena itulah tugas "memahami" ada pada manusia, bukan pada binatang.

Karena ketidaktahuan, manusia menganggap kicauan burung adalah nyanyian belaka. Saat burung berhenti berkicau dan mulai bercengkrama dengan pasangannya manusia kemudian cemburu dan marah. Dan manusia justru merasa senang ketika mendengar suara burung berkicau, padahal mereka tak mengerti hal apa yang sedang diungkapkan si burung. Mungkin si burung justru sedang mengumpat, mencaci-maki dengan ribuan sumpah serapah..?

Beberapa orang teman, pernah begitu bangganya menunjukan burung peliharaanya. Sekali kita dekati dan bersiul kecil, sang burung akan membalasnya dengan kicau yang lantang dan berkepanjangan sambil menari jungkir balik. Untuk menyenangkan teman, aku selalu bilang bahwa burungnya bagus, keren pokoknya. Tapi aku membayangkan seorang lelaki yang mengumpat sambil memukuli dinding penjara, atau seorang gadis yang menangis sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah karena rindu pada kekasihnya. Aku tak tahu harus senang atau sedih....

Dan di Tanah Airku INDONESIA, banyak orang berdemonstrasi menuntut keadilan, protes sana-sini, berteriak sampai serak menuntut hak. Tapi sang penguasa tetap tertawa dalam gemuruh pesta. Hah... jangan-jangan mereka justru merasa senang dengan caci-maki dan suara protes dari rakyatnya, semakin keras dan panjang akan terdengar semakin merdu dan indah.

Seperti layaknya burung yang sedang mengumpat...          eh ..... ........ berkicau dink.


yusiheptorina wrote on May 15
....bermakna.... :)
bayung wrote on May 15
....bermakna.... :)
Apa maknanya yah....?
yusiheptorina wrote on May 15
bayung said
Apa maknanya yah....?
iya yaaaa....
bermakna apa ya... ? ...

wekekeke.... ;P
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.