Blog EntryGATOTKACA, AKU DAN ANAKKU KELAKNov 17, '07 11:21 AM
for everyone

Setiap mendengar nama Gatotkaca aku selalu iri dan minder. Bagaimana nggak iri, dia sosok yang disegani baik kawan maupun lawan. Beberapa saat setelah kelahirannya, berbagai macam benda pusaka bahkan tak mapu memotong tali pusarnya. Hanya pusaka Kuntawijayadanu atau warangkanya yang mampu menandingi keuletan tali pusar Tetuko, nama kecil Gatotkaca ini. Bahkan sarung/warangka kuntawijayadanu yang digunakan memotong tali pusarnya seperti jatuh cinta saja main masuk ke tubuhnya. (inilah yang menyebabkan kematiannya saat menghadapi Adipati Karna, yang memiliki pusaka Kuntawijayadanu dan dalam pusar gatotkaca tersimpan warangkanya).

Ketika terjadi penyerbuan oleh para penyerang kahyangan (nirwana) yakni Patih Sekipu Montro, dan tak ada satria yang mampu mengalahkannya Gatotkaca tampil menjadi pahlawan. Tubuhnya yang dilebur dalam kawah candradimuka bersama puluhan senjata oleh Batara Narada, bukan mati justru muncul menjadi sosok pemuda gagah sakti mandraguna, yang dikatakan orang sebagai manusia otot kawat tulang besi.

Bukan hanya itu saja, mungkin kesaktiannya hanya bisa ditandingi oleh Superman yang sama-sama punya kemampuan terbang. Sama gantengnya, cuma bedanya Gatotkaca punya kumis sedang superman nggak. Mana yang lebih sakti dan kebal antara keduanya...? Secara logika tentu Gatotkaca, sebab bagaimanapun juga kumis Superman bisa dicukur bersih dan licin, sedang Gatotkaca tentu butuh pusaka sakti kalo mo nyukur kumisnya. Motong tali pusar aja repotnya bukan kepalang, apalagi motong kumis...? Aku jadi berfikir bagaimana kalo Gatotkaca pengen sunat ya...?


Wah, begitu banyak kelebihan dan kehebatan Gatotkaca sampai kayaknya akan penuh blog ini hanya untuk menuliskan tokoh satu ini.

Jika dibandingkan denganku sangat jauh berbeda. Aku lahir bukan dari keturunan bangsawan, ibuku hanya seorang perempuan desa biasa yang tentunya jika hidup pada kisah mahabaratha Mpu Byasa ( Resi Abyasa, bukan Bayungyasa..!!! ) tak akan pernah menuliskan namanya dalam kitab perwayangan.

Kemampuanku, tak menonjol. Berantem sering kalah, tubuhku kurus tanpa otot, jangankan terbang, menangkap capung pun harus keringetan dan ngos-ngosan dulu. Jangankan disegani, aku justru sering jadi bahan olokan teman sepermainanku waktu kecil. Entah karena lesung pipit di kedua pipiku dan sering dipanggil "pekok" atau namaku yang sering dipanggil "pranggkolak", sebuah alat dari kayu yang diikatkan di belakang pinggang para penebang tebu untuk menyelipkan arit mereka saat tidak digunakan.

Ah, seandainya aku seorang Gatotkaca, pasti mereka akan berfikir seribu kali untuk mengoloki aku. Aku juga nggak akan diam saja saat pipiku dengan tulang yang menonjol dan mata yang cekung ditampar pemuda desa tetangga. Bukan sekali aku terima perlakuan sok jagoan seperti itu, dan aku tak melawan. Tepatnya tak mampu melawan, karena aku bukan Gatotkaca yang sakti. Ah sekali aku melawan, aku jadi bulan-bulanan,

Alangkah bahagianya hidup Gatotkaca. Aku ingin seperti dia.

Tapi aku tetap saja bukan Gatotkaca. Tapi aku tidak sendiri. Aku tak tahu disebabkan rasa iri atau kasihan, beberapa orang seniman mengolok-olok Gatutkaca. Oleh Slamet Gundono si dalang "Wayang Suket" asal Tegal, Gatotkaca ditampilkan sebagai orang yang tersiksa, sebagai manusia yang tak memiliki kebahagiaan. Dia adalah sebuah mesin perang yang harus berjalan di rel yang telah ditentukan. Oleh beberapa orang cerpenis, Gatotkaca ditokohkan sebagai manusia yang kesepian. Apa yang menyenangkan bagi seorang manusia, belum tentu membahagiakan bagi Gatotkaca.

Jika aku susah payah menangkap capung dan sangat senang bila mendapatkannya, tentu Gatotkaca tak bisa merasakan senang seperti yang aku punya. Menagkap capung terlalu mudah baginya, dan permainan yang terlalu mudah tentu tak menyenangkan. Apakah Gatotkaca memiliki kenangan indah masa kanak-kanak...? Tidak. Dan aku yakin jika dia bertemu denganku dan kuceritakan betapa senang dan mendebarkan rasanya mencuri tebu dan mangga di sawah dan ladang orang, Gatotkaca tak akan mengerti. Jika aku pernah merasakan betapa damainya tidur dalam pelukan ibu sambil menetek, Gatotkaca juga akan bengong. Gatotkaca tak bisa merasakan kebahagiaan yang pernah aku dapatkan.

Ah, rasanya aku harus berterima kasih pada Slamet Gundono, Cerpenis Yanusa Nugroho dan beberapa penulis serta seniman lain yang menyadarkanku betapa aku sangat beruntung tidak dilahirkan sebagai Gatotkaca, yang oleh Sri Kresna dijadikan tumbal untuk dibunuh Adipati Karna demi kemenangan Arjuna dalam perang Bharatayudha...

Dan suatu saat nanti jika Allah mengaruniaiku anak yang akan kutitipkan pada rahim perempuan pilihanku, aku tak ingin mendidiknya seperti Gatotkaca. Menjejalinya dengan berbagai macam kursus dan les privat yang sesungguhnya bukan keinginan seorang anak tapi lebih merupakan ambisi orang tua. Biarlah seorang anak menikmati masa kecilnya yang penuh warna dan mimpi...


gialovely wrote on Nov 18, '07
so great bro.....^_^.aku bacanya sambil senyam senyum.....?suxes 4u always ya.....i'll support u
bayung wrote on Nov 18, '07
dan aku nulisnya sambil cengar-cengir... hi..hi..hiiiii
cewekblora wrote on May 6
bagus banget tulisannya.
bayung wrote on May 8
bagus banget tulisannya.
makasih,,,,
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.