"Kak, rumah di Mega Regency boleh ga ditanami pohon ...? Tapi dimana ya, di halaman atau di jalan..? Soalnya sempit..."
Beberapa pesan singkat masuk ke Yahoo! Messengerku. Dari Rona.
Ya, dia ingin menanam pohon di rumah yang akan kami tempati nanti di Bekasi. Entah pohon apa aku tak tahu. Mungkin bunga, mungkin buah, mungkin juga tanaman yang tak tergolong dalam kedua jenis tersebut.
Memang serba salah kalau hanya memiliki rumah yang sempit walau aku lebih suka menyebutnya mungil. Semua harus diatur dengan cermat agar sisa halaman rumah bisa bermanfaat untuk pemilik rumah. Kalau bisa memiliki fungsi ganda agar efesien, baik efesiensi waktu maupun ruang.
Demi efesiensi tersebut tidak heran banyak penghuni perumahan memanfaatkan sedikit halaman yang tersisa untuk teras, carport, garasi, toko, atau sekedar menutupnya dengan semen agar bisa digunakan untuk menempatkan barang baik mainan anak-anak mereka, sepeda, ember, ban bekas, pot-pot bunga ( tentu dengan pohon bunganya), atau mungkin juga tempat jemuran baik kasur, pakaian luar, juga pakaian dalam ( ? ).
Dari berbagai alternatif pemanfaatan halaman tersebut, agaknya bagi pemilik rumah sederhana atau sangat sederhana, menanam pohon biasanya menjadi pilihan terakhir jika pilihan-pilihan yang lain terasa sulit untuk diwujudkan. Alasan utama adalah manfaat yang kurang dibandingkan pilihan lain. Mendingan tanah dihabiskan untuk bikin satu kamar lagi biar rada legaan, atau bikin toko biar ada pendapatan tambahan. Atau kalau modal ga ada ya sekedar ditutup dengan semen agar bisa berfungsi ganda. Menanam pohon...? Ah,, itu mah kalau kepepet banget ga ada duit,,,, begitu duit ada maka pohon kembali ditebang berganti gerobak nasi goreng.
Begitulah kenyataan yang memang terpampang di lingkungan kita. Manusia lebih senang menebang pohon dibanding menanamnya. Bahkan aku yakin seyakin-yakinnya, ada manusia yang seumur hidupnya belum pernah sekalipun menanam pohon. Atau ada juga yang sekali menanam pohon tapi seratus kali menebang pohon lain. Maka pepatah "Patah Tumbuh Hilang Berganti, Mati Satu Tumbuh Seribu" kini berbalik arah "Tumbuh Satu Mati Seribu".
Ketika aku pulang ke Purbayasa, sebuah desa kecil di Kabupaten Tegal aku dapati pohon-pohon pelindung di tepi jalan telah hilang sampai ke akar-akarnya. Pohon-pohon itu, baik mahoni, johar, Asem Krantil, yang dulu setia meneduhiku setiap hari saat pergi pulang ke sekolah kini benar-benar musnah. Bahkan tonggak kayunya mereka gali dan akar-akarnya tak lagi tersisa.
Mencoba memancing di Waduk Cacaban, yang kudapati kenyataan yang sama. Beberapa orang sedang menebang pohon dan meratakan bukit dengan cangkul-cangkul kecilnya, dan lambat tapi pasti hutan itu akan berganti ladang. Waduk akan semakin dangkal karena tanah bukit begitu mudah terkikis jarum-jarum air hujan.
Perbukitan Guci menghadapi persoalan yang sama. Dan aku marah,,, (meminjam syair PUISI GELAP-nya Iwan Fals);
Marah pada apa....? Marah pada siapa....? Marah pada marah yang tak terlampiaskan....
Apakah mereka tak juga sadar bahwa bumi semakin panas...? Sungai dan waduk semakin dangkal, es di kutub semakin mencair, permukaan air laut semakin tinggi dan banjir bukan lagi milik orang-orang Jakarta.
Kemudian sebelum berangkat ke Jepang, dengan perasaan yang sungguh sulit aku ungkapkan, aku menanam dua batang pohon mangga di samping rumahku. Salah satunya tepat di tempat dulu aku menebang pohon mangga. Sambil menyiramnya dengan beberapa gayung air aku berbisik, " Ties, pohon-pohon ini telah aku tanam. Pipit kembali menemukan tempat untuk bermalam,,,,"
Hem,,, menanam pohon, apakah benar harus dengan ijinku..? Rona, jika kau mau tanamlah di manapun kau suka,,,,
Prangg RN
( ilustrasi :Redwoods, Founders Grovedwoods, by Ansel Adams )