Rambut gondrong, baju dan celana dekil, kumis dan berengos tumbuh tak teratur, jarang mandi, bertingkah nyentrik dan unik, cara berfikir yang nyeleneh dan seabreg sifat aneh yang lainnya. Begitulah sekilas pandangan dan bayangan banyak orang mendengar kata "SENIMAN". Dan bukan rahasia, banyak orang tua yang tak menginginkan anaknya menjadi seniman.
Tak percaya,,,,? Tunggu saja saat lo semua punya anak dan mulai menunjukan gejala aneh,,, suka maen gitar nggak kenal waktu, ngelukis di semua buku pelajaran sekolah sampai tak bisa membedakan mana buku IPS mana buku gambar, atau sering teriak nggak karuan sambil sesekali marah, menangis dan tertawa tanpa sebab. Puncaknya saat mereka ingin masuk fakultas seni atau jurusan kesenian,,,, sedangkan orang tua cuma punya modal pas-pasan. Tentu orang tua akan berfikir tujuh kali untuk berinfestasi dengan membiayai anaknya kuliah di fakultas Seni. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya sukses secara materi dan kesenian bukan sebuah pilihan yang cerdas. Mungkin bagi orang musik, pelukis, aktor teater, penulis sastra dan pelaku seni lainnya hal itu adalah sebuah kewajaran. Bagi lo yang ga suka seni...? Atau suka seni tapi nggak mau miskin,,,?
Dulu aku pernah punya kenalan seorang pelukis kelahiran Madiun. Ia secara rutin (?) menjajakan lukisan karyanya ke tukang-tukang bingkai pinggir jalan di kawasan Jakarta dan Bekasi. Ia selalu naik sepeda mini dengan bermacam aksesoriesnya yang lebih mirip sepeda hias yang dipakai anak SD saat karnafal 17 Agustus. Pakaian yang dikenakannya pun unik. Rambut gondrong, kumis yang panjang namun jarang-jarang, karet gelang yang selalu melingkar banyak di pergelanngan dua tangannya, tentu dengan gulungan kain kanvas lukisan sebagai mata pencaharian agar dapurnya ngebul dan membuatnya terus hidup.
Karena sama-sama pelukis eceran keliling, akhirnya ada juga kesempatanku bertemu dan ngobrol dengannya saat sama-sama menawarkan lukisan kesebuah toko bingkai. Dan waktu aku singgung tentang cara berpakainnya yang nyentrik, dia mengatakan, "Inilah seni. Segala sesuatu ada seninya, termasuk caraku berpakaian,,,,"
Guru Bahasa Indonesiaku di SMA yang menyukai teater, -sebut saja AGS- pun memiliki karakter yang unik. Tak jarang dia mengajar dengan celana panjang yang sebelah kiri dimasukkan ke kaos kaki dan sebelah kanan dibiarkan terjuntai bebas. Dan entah sengaja atau tidak, kaos kakinya juga berbeda warna antara kaki kiri dan kanan. Wajar saja wibawa dia sebagai seorang guru nyaris pada titik terkritis dihadapan muridnya dan disematkanlah sebuah julukan padanya : WAPLO ( Wajah Plonga-plongo ==> wajah orang yang suka melongo )
Sesekali ngumpul bersama teman-teman dari komunitas kesenian, aku selalu memperhatikan penampilan dan dandanan mereka. Sebagian menggunakan aksesoris yang menunjukan "aku seorang seniman" dari ujung rambut sampai jempol kaki yang sedikit bengkak karena cantengan.
Suatu sore aku ngobrol dengan Pak Tri, seorang pelukis di pasar seni Ancol. Pakaiannya necis. tentu menarik bagiku karena kebanyakan seniman akan "gerah" dengan kostum dan bungkus yang rapi wangi sepertinya. Ngalor ngidul ngobrolin semuanya, termasuk masalah pakaian seniman. "Seniman adalah orang yang bergaul dengan berbagai kalangan, karena itu aku harus menyesuaikan tempat dan komunitas yang aku masuki. Aku memakai sepatu mengkilat saat berpameran di hotel, juga berpakaian apa adanya saat aku harus bergaul dengan masyarakat biasa. Jika orang awam bisa memaklumi kesemwarutan dan kenyentrikan seniman,,, kenapa seniman sendiri nggak bisa menerima seniman lain yang berpakaian rapi dan licin wangi...? Kenapa harus pake karet gelang padahal ada jam tangan yang bisa mengingatkan seniman untuk menghargai waktu,,," katanya. ( maaf, kalimat persisnya aku sudah lupa, namun inti yang diucapkannya demikian -Prangg-)
Benar, untuk apa memaksakan diri memperlihatkan "kesenimanan" diri sendiri dengan berpakaian yang unik nyentrik jika tak berkarya...? he,,he,,he,,, seperti kebiasaan anak gunung yang memakai gelang tali prusik, sendal gunung, dompet dan alat-alat panjat sebagai aksesoris pakaian mereka,,, anak band yang kemana-mana membawa stik drum, buku kumpulan grib dan kunci gitar,,,, padahal orang lain akan lebih mudah menebak : LO MASIH AMATIR ....
Mungkin dengan berpenampilan unik nyentrik akan membuat seorang seniman merasa memiliki identitas dan walau sekilas orang melihatnya tentu bisa langsung menebak bahwa dia seorang seniman. Dan karena aku belum jadi seniman maka caraku berpakaian tentu nggak ada yang istimewa. Nggak keren dan necis, juga nggak semrawut dan nyentrik. Sekali lagi, biasa aja, seperti kebanyakan orang kampung yang lain, yang hanya memakai baju baru saat lebaran tiba.
Bagiku,,, seniman adalah manusia yang selalu mencari, selalu gelisah dan kosong. Karena perasaan kosong dan pencarian itulah dia berkarya, karena seniman yang tidak gelisah justru akan mandek dan terhenti proses kreatifitasnya.
Ilustrasi : Blues Man by Justin Bua