Tentu bunga kecubung tak ada hubungannya dengan musim semi karena memang bunga ini tidak tumbuh di negeri yang memiliki empat musim. Dan dia tak juga terpengaruh dengan pergantian musim seingatku. Kapanpun kuncup siap mengembangkan kelopak dan merayu kumbang madu, bunga kecubung tentu dengan ikhlas membuka diri tanpa memberikan syarat waktu. Dan musim semi juga tak mengharapkan bunga kecubung mengisi hari-harinya yang sejuk. Mungkin tidak. Yang ditunggu dari datangnya musim semi tentu bunga sakura bagi masyarakat Jepang. Bunga yang muncul selama satu minggu di awal musim semi, pada dahan-dahan pohon yang lama ditinggalkan daunnya pada musim dingin. Kemudian rontok kembali berganti hijau daunnya menyongsong hangat mentari. Dan masyarakat Jepang, dari bayi sampai kakek-nenek yang mulai pikun tentu tak akan melewatkan moment munculnya bunga ini. Digelar pesta 'HANAMI' dengan tikar di taman yang banyak ditumbuhi pohon sakura, menikmati makanan dan minum sake hingga mabuk, tertawa lepas bebas melepaskan beban. Ya, kapan lagi bisa berteriak dengan bebas bagi mereka selain saat mabuk karena lingkungan mereka semua serba berjalan dengan kesibukan yang sunyi. Dan bunga sakura menjadi salah satu identitas Jepang. Tentang bunga sakura dan pesta hanami tak ingin aku melukisnkannya dengan detail. Cari saja blog lain yang mengulasnya, sebab aku lebih mencintai negeriku dengan segala kebudayaannya. Hampir semua orang yang pernah mampir ke Jepang dan bertepatan dengan datangnya musim semi, seperti tersihir oleh keindahan bunga sakura ini. Menjadi fotografer dadakan dengan mengambil gambar sakura atau foto dirinya dari berbagai sudut pandang. Untuk apa,,,? tentu bermacam-macam alasannya. Sebagai kenangan, untuk dipamerkan di blog, sebagai bukti pernah menginjakkan kaki di Jepang, oleh-oleh atau entah apa lagi aku tak ingin tahu. Hah, bagaimana denganku...? Telah tiga kali musim semi datang, tak satu kalipun kameraku terarah pada rayuan bunga-bunga itu. Apakah aku telah buta pada keindahan visual kuntum-kuntum bunga...? Ah rasanya bukan itu. Setiap manusia memiliki hati yang berbeda untuk disematkan pada sesuatu yang menurutnya menarik. Keindahan dimata orang belum tentu menarik bagi sebagian lainnya. Dan aku inginkan sesuatu yang sederhana, sedangkan keindahan bunga sakura yang terlalu dibesar-besarkan tak lagi menjadi sesuatu yang melambangkan kesederhanaan bagiku. Semakin dipuji banyak orang, semakin diagungkan dan dielu-elukan semakin aku tak tertarik dibuatnya. Sebab mengingat sakura akan mengingatkan juga pada pesta hanami, mengingatkanku juga pada sake, whisky, beer dan daging babi. Tapi mengingat bunga kecubung, kenanganku akan terbawa pada kampung halamanku, mushola kecilku dan rumah sederhana yang dihalamannya pernah tumbuh pohon kecubung. Didalamnya ada Ibu dan Ayahku yang setiap pagi membangunkanku dengan kalimat yang sama : " Prangg,,, sholat !" Hingga aku mengingat Allah,,, Tentang Kecubung (Datura Metel) lihat di http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=14
 | Pribadi yg aneh,, tp dr pribadi tsebut aku belajar bnyk hal. Matur nuwun M'Prangg ku,, |
 | Pribadi yg aneh,, tp dr pribadi tsebut aku belajar bnyk hal. Matur nuwun M'Prangg ku,,  Orang aneh,,, mau blajar banyak hal pada pribadi yang aneh,,,,, |
 | hidup orang aneh...DUAAAARRRR!!! :D |
 | waaaahhhhh menariknya pemandangan dari sudut yg berbeda ... sepp deh... |
 | Prangg.... ngesuk ulangan! Sinau!!!
Prangg... Prangg.... ^_^ |
 | oalah.. deneng kecubung?! ujarku kembang kumis kucing hihihi... |
 | duuuuuuuuuh, memang, apapun bisa menjadi ciri khas, menjadi memoar, menjadi sesuatu yang indah untuk di kenang. mengenang hal2 yg bisa menjembatani ingatan dengan keluarga, bisa meringankan hati yang terdesak kerinduan... |
| |