Tanpa bermaksud mendahului kehendak Tuhan, sebodoh apapun manusia yang bermukim dan menghirup udara di bumi nusantara saat ini tentu yakin kehidupan hari-hari mendatang akan semakin berat. Bagi sebagian orang mungkin tak begitu perduli, tapi tetap saja semua terkena imbasnya.
Ya, apalagi kalau bukan soal kenaikan harga BBM walau belum diputuskan. Soal setuju atau tidak, aku tak ingin mengatakannya karena aku yakin suaraku tak mungkin bisa mencegahnya. Tapi yang jelas, miskin atau kaya aku yakin 100% akan ikut terpengaruh juga.
Bagi orang miskin yang biasa makan nasi putih plus ayam bakar garam doank, sudah pasti kian bingung bagaimana melanjutkan hidup yang memang harus dilanjutkan,,, bagi orang kaya dan pengusaha juga pasti mulai berhitung bagaimana caranya agar tetap bisa bertahan kaya, sedang koruptor dan tukang suap..? Aku yakin ikutan mikir, sebab dengan kenaikan harga BBM tentu ongkos suap juga naik. Uang yang harus dikorupsi juga mesti lebih banyak lagi dengan kewaspadaan yang terus ditingkatkan agar aman dari ciuman KPK. Kalau sebelumnya butuh sekian M untuk urusan alih fungsi hutan lindung, maka dengan kenaikan harga BBM jumlah yang harus dikeluarkan menjadi dua kali sekian M atau bahkan jadi L atau XL. Lho,,, ini mah ukuran baju..?
Yang pasti semua ikutan naik deh, dari trasi sampai dasi, dari ongkos becak sampai harga rujak, bahkan harga ikan teri sampai harga diri. Lho,,, siapa bilang harga diri nggak ikutan naik..? Nggak percaya datang saja ke gang Dolly Surabaya, Pasar Kembang Jogja, Sunan Kuning Semarang atau warung dengan lampu warna-warni lima watt di sepanjang jalanan Purwakarta - Cirebon, atau lokalisasi terdekat di kediaman anda, dijamin deh ongkos "ganti oli" pasti akan ikutan naik. Sok tahu banget yah...?
Kembali ke soal kenaikan BBM. Percayalah, sampai serak anda berteriak tetap saja BBM melenggang tanpa malu. Ibarat anjing menggonggong, kafilah tetap ngacir. Dan aku, anjing yang akan kehilangan energi untuk menggonggong menelan ludah.
Satu-satunya jalan keluar tentu dengan menambah penghasilan dan mengurangi pengeluaran kita. Jangan ngandelin dan ngarepin subsidi pemerintah, karena justru makin membuat kita bermental miskin dan manja. Apapun jalannya berkerja keraslah, ciptakan dan gunakan produk dalam negeri sebanyak-banyaknya.
Sudah saatnya kita belajar berjalan kaki atau bersepeda kesekoalah atau tempat kerja daripada menggunakan kendaraan bermotor yang membuat negara maju makin kaya karena mengeruk keuangan kita tapi asap knalpot kita yang menghisapnya, sudah saatnya musisi kita belajar bahasa asing dan menjual album tidak hanya ke Malaysia, sudah saatnya kita bangga menjadi petani dan tak silau mengharapkan menjadi pegawai negeri, sudah saatnya penari dan budayawan bersolek untuk menarik wisatawan, dan sudah saatnya kita berhenti menonton acara kartun yang membuat negara Jepang semakin kaya dari penjualan royalty dan beralihlah kembali ke tanktop< laptop, lihatlah betapa uang jajan remaja Indonesia telah habis dikuras oleh manga (komik Jepang).
Sudah saatnya kita tidak lagi bergantung pada negeri lain. Makanlah dari makanan yang tumbuh di bumi pertiwi, minumlah air yang mengalir dari tanah pertiwi, tertawalah bersama hiburan yang disajikan anak-anak negeri. Aku ada di Jepang, tapi hatiku tetep merah putih Indonesia. Sepatuku tetep made in Indonesia, bajuku, mie instan, udang, ikan, dan beberapa alat elektronik tetep aku cari made in Indonesia. Bahkan calon istriku, ya tetep made in Indonesia.
Persetan dengan gengsi, bodo amat dengan coca cola, fuck you Doraemon, gue kencingin lo Superman !!!
Dan tentunya dalam kesulitan ada kesempatan. Seperti pengalaman Pak Wied, Boss besar pemilik perusahaan kaos C59 ketika berbicara dalam pelatihan kewirausahaan dan edukasi perbankan di Tokyo dimana ketika teman-teman kuliahnya asyik berdemonstrasi dia justru berbisnis dengan membuat kaos dan menjualnya untuk para demonstran.Ketika Soeharto mantan penguasa RI meninggal, bukan menulis artikel caci maki atau pembelaan malah mengajukan proposal untuk menyediakan kaos cinderamata yang akan dibagikan pada saat peringatan 40 hari dan 100 hari.
Orang-orang DPR yang dulu kalah telak sebelum adu kejantanan panco sama Slank gara-gara kasus AL Amin, kini mendapat angin segar untuk cari perhatian rakyat dengan menolak kenaikan harga BBM padahal mereka juga akan melakukan hal yang sama jika tukar posisi dengan SBY. Jelas kenaikan harga BBM menguntungkan bagi DPR, minimal memberikan harapan baru unuk menghadapi 2009. Tapi sudahlah, ntu mah bukan urusanku.
Masalah etis atau tidak etis, serahkan saja pada hati kita. Tapi toh kenyataanya hal tersebut mendatangkan untung tanpa melanggar hukum. Begitu juga menghadapi kenaikan harga BBM yang 99,99% pasti terjadi. Memang sangat memberatkan, tapi siapkan mental baja menghadapinya. Kita siapkan taring dan cakar untuk kembali berperang, sebab menyiapkan air mata untuk menangis hanya akan membuat senang iblis. Yakinlah ada hal positif yang bisa kita ambil dan manfaatkan.